Minggu, 08 Mei 2011

Potensi Konflik Sosial di Bali Tinggi

Bentrok dua desa adat di Gianyar bahkan diberitakan media CNN. Gara-gara rebutan kuburan.
Minggu, 8 Mei 2011, 17:39 WIB
Elin Yunita Kristanti
Tabanan, Bali (warnawarni.co.cc)

VIVAnews
-- Di balik pesona pariwisata dan budaya, Pulau Bali menyimpan beragam masalah. Tak hanya soal keamanan, dalam bayang-bayang aksi teror, konflik sosial di Pulau Dewata juga jadi ancaman. Terutama konflik berbau adat.


Sebelumnya, Gubernur Bali, Made Mangku Pastika mengaku pusing, saat melihat kantor berita CNN menyiarkan bentrok massa antara dua desa adat di Gianyar. Hanya gara-gara rebutan lahan kuburan.

Apa yang sebenarnya terjadi di Bali?

Direktur Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kementerian Dalam Negeri, Ayip Muflich mengatakan, konflik harus dilakukan sedini mungkin, sebelum berkembang menjadi konflik sosial yang terbuka.

"Bali memang tidak seperti daerah lain, tetapi potensi konflik itu tetap terbuka. Maka, sebelum konflik itu pecah, harus diantisipasi sedini mungkin dengan cara dialog," kata Ayip saat membuka seminar nasional "Mencegah Potensi Konflik Sosial" di Denpasar, Minggu 8 Mei 2011.

Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali, Ida Bagus Gede Wiyana menyatakan, konflik terjadi saat Pancasila dan UUD 1945 diabaikan dalam keseharian kita. Lalu itu dipelesetkan dalam sebuah bentuk ekslusivisme picik oleh sebagian anak bangsa yang menamakan diri sebagai yang benar.

Fundamentalisme, termasuk di dalam membuat pernyataan-pernyataan yang eksklusif dalam kemurnian dan kebenaran cenderung melahirkan intoleransi dan kekerasan. "Kalau cara pandang ini yang kita anuti dalam hidup berbangsa, kita akan hidup dalam bayang-bayang kekerasan. Menganggap yang lain sebagai bukan kaumnya, yang harus didepak," katanya.

Ia juga menyoroti argumentasi para pengamat sosial dan kaum agama yang tergabung dalam FKUB bahwa masalah sosial yang terjadi selama ini adalah salah satu bentuk pergeseran nilai. Nilai tradisional yang sebenarnya mempunyai ikatan luhur tiba-tiba didepak oleh amukan jaman modern.

Menurutnya konflik sosial merupakan permasalahan yang tidak bisa dibiarkan berkembang karena akan mengikis nilai dan solidaritas sosial kebersamaan masyarakat. "Memang, suatu hal yang tidak gampang, karena permasalahan sosial sekarang sangat kompleks. Namun kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai kekerasan yang terus mengancam kita setiap saat. Kita harus melakukan pendekatan-pendekatan," ujar Wiyana.

Model pendekatan seperti apa yang dilakukan? Ketika ditanya demikian, Ketua yayasan Dwijendra ini mengatakan lakukan pendekatan secara umum. Seperti penegagakan hukum.

Lalu pendekatan yang lain untuk bisa mencegah konflik sosial dengan menerapkan hukum agama yang sebaik-baiknya. "Nah peran agama disini sangat penting untuk membangun harmoni integritas yang solid," kata dia. (Laporan Bobby Andalan| Bali)

• VIVAnews

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms